Resume Bab 4 Buku Teknk Praktis Riset Komunikasi : Teknik Praktis Latar Belakang Masalah, Perumusan Masalah. Tujuan, dan Manfaat Riset

Nama : Laksamana Fhadillah Armandio Lubis 

Kelas : E-4 

NIM : 195120207111065 

No.Absen : 39

MENULIS JUDUL

Saat kita ingin membeli pensil, kita tidak mungkin mampir ke sebuah toko yang di etalasenya memajang wajan, spatula, kompor, piring, dan lemari plastik. Kita bisa tahu isi sebuah skripsi, tesis, dan disertasi hanya dengan melihat judul yang ada di sampulnya, tidak harus membuka-buka isinya. Judul harus relevan dan konsisten dengan rumusan masalah.

Judul: Profil Penonton SCTV

Teori Osgood dalam Pemaknaan Internal Produk Co-branding . Orang lain tidak perlu membuka-buka halaman satu persatu untuk sekedar tahu tentang apa metode, objek atau tujuan riset. Kemasan judul tergantung selera periset. Studi Deskriptif tentang Sikap Terhadap Pornografi pada Mahasiswa di Kota Malang.

PERUMUSAN MASALAH

Dalam riset komunikasi, merumuskan masalah perlu mempertim bangkan dua aspek, yakni pertimbangan objektif dan pertimbangan subjektif.

Pertimbangan objektif

Anda harus mengaitkan dengan objek formal komunikasi.

Baca Bab 1 tentang minat riset. Dalam riset kuantitatif, teori sebagai pedoman menyusun instrumen pertanyaan sedangkan pada riset kualitatif teori berfungsi sebagai alat menginterpretasikan temuan data. Riset bertujuan membuktikan kebenaran fenomena sosial karena itu membutuhkan bukti bukti yang cukup dan sesuai agar riset tersebut berkualitas. Misalnya, survei nasional dengan responden yang besar membutuhkan jumlah surveyor yang lebih banyak daripada survei dengan skala regional.

Riset tentang «bagaimana pemberitaan surat kabar tentang korupsi di era pemerintahan Soekarno dan Soeharto» tentu membutuhkan ketersediaan dokumen surat kabar terbitan tahun 1945-1998. Misalnya, riset opini masyarakat Jawa Timur membutuhkan dana lebih besar daripada riset analisis isi pemberitaan media online di Jawa Timur. kan hasil riset yang bermanfaat, dan sebaliknya, tidak otomatis riset yang berdana sedikit dianggap tidak berkualitas. Izin dari yang berwenang dalam pengumpulan data.

Melakukan riset jangan melanggar hak-hak orang yang diriset karena itu periset harus meminta izin kesediaan calon responden atau informan. Hal ini dapat diatasi dengan melakukan pendekatan personal terlebih dahulu melalui jejaring orang yang bekerja di instansi/organisasi yang dijadikan lokasi riset dan penyiapan letter of information dan consent letter yang detail sebagai standar etis menjelaskan segala hal tentang riset kita, termasuk hak dan kewajiban periset dan responden/informan 3. - Memiliki kesesuaian dengan judul riset. Kejelasan konsep-konsep yang ingin diri set.

Sama seperti judul, perumusan masalah harus mengandung informasi tentang jenis metodenya, objek/subjek riset, dan tujuan riset dengan jelas. Permasalahan riset juga dapat diperoleh dari kegiatan kepustakaan . Periset membaca buku, eksplorasi teori teori, jurnal ilmiah, majalah bahkan menonton televisi pun dapat menghasilkan masalah riset.

APA ISI LATAR BELAKANG MASALAH?

Besi namanya, Latar Belakang Matah merupakan deskripsi yang melatari permasalahan yang diriset. LJSM adalah deskripsi tentang -masalah apa yang muncul, mengapa masalah itu muncul dan mengapa masalah riset ini menarik atau penting untuk dirinya«, DI M inilah, periset menjelaskan unsur pentingnya riset seperti keinovasian dan ke baran tema sehingga riset tersebut bermanfaat bagi pengembangan ilmu dan dunia praktis. Riset harus berangkat dari masalah. Riset adalah upaya menjawab masalah yang terwujud ke dalam solusi/rekomendasi memecahkan masalah.

Hal ini juga terjadi dalam kehidupan sehari hari. Anda berharap mendapat nilai A. Di akhir perkuliahan ternyata Anda mendapat nilai A, maka harapan atau keinginan sama dengan kenyataan. kin tugas-tugas saya lupa dinilai, mungkin dosennya asal-asalan menilai, standar penilaiannya nggak jelas, atau mungkin dosennya nggak suka dengan saya». Dugaan ini sebenarnya adalah jawaban Anda sebagai upaya ingin memahami penyebab nilai yang Anda peroleh.

Tetapi, Anda belum yakin terhadap jawaban-jawaban tersebut atau jawaban yang mana benar. Karenanya, Anda berusaha mencari jawaban pastinya dengan bertanya kepada teman, dosen atau mencetak dokumen tentang tugas-tugas mata kuliah. Akhirnya Anda mendapat jawaban dari dosen

bahwa penyebabnya karena Anda tidak mengerjakan semua tugas dan Anda tidak mengisi soal ujian dengan sempurna. Usaha bertanya mencari jawaban informasi yang benar ini disebut riset.

Dengan kata lain, LBM harus mampu memunculkan/berisi kesenJangan . Kesenjangan ini yang memunculkan masalah yang mendorong Anda memunculkan asumsi tentang jawaban masalah itu. Pembuktian kebenaran asumsi itu makin menguat kan bahwa riset Anda ini harus dilakukan atau riset dilakukan karena Anda ingin membuktikan asumsi yang dimiliki. Kesenjangan terjadi jika Anda dapat menyampaikan setidaknya dua fakta yang bertentangan.

Bukti, informasi, dan contoh-contoh ini merupakan perpaduan deskripsi antara teori-teori, hasil-hasil riset terdahulu, dan data lapangan . Anda dapat memperoleh bukti, informasi, dan contoh-contoh teori, metode, model dan penerapannya dalam suatu riset. Buku-buku, artikel yang dipresentasikan di seminar/konferensi ilmiah, dan hasil pemikiran ilmiah lainnya. Pada riset konstruktivistik keberadaan data awal ini sangat dituntut karena pendekatan konstruktivistik berangkat dari data .

State oh teh rat dalam bidang yang dikaji, iaitu melihat bidang kajian dan mengenali perkembangan kajian termasuk berbagai perspektif kajian.

Berbagai fakta/data dari beberapa sumber di atas harus disintesiskan sehingga menghasilkan deskripsi tentang

Bahwa topik yang diriset adalah sebuah realitas/fenomena/objek formal kajian komunikasi atau merupakan masalah komunikasi, yakni «segala produksi, proses, dan pengaruh sistem simbol dalam kehidupan manusia.» Ketika anda bisa mendeskripsikan state of the art kajian tema riset, berarti anda mampu memposisikan riset Anda sebagai riset komunikasi. Secara eksplisit menjelaskan bahwa eksplorasi literatur tersebut yang mendasari munculnya kesenjangan atau yang mendasari munculnya masalah sehingga penting di reset. Kesenjangan ini yang menjadi dasar perumusan asumsi/hipotesis. Ada yang bilang jika riset Kualitatif tidak ada hipotesis.

Ini pendapat yang salah. Asumsi riset ini juga berfungsi agar periset tidak buta lapangan atau setidaknya tahu apa yang akan di risetnya. Periset dimungkinkan tidak menggunakan asumsi ini jika dirinya menemukan data lain yang dianggapnya lebih menarik.

RISET HARUS BARU?

Riset yang baru atau orisinil bukan berarti «sama sekali baru» atau «belum pernah ada». Inovasi dapat berarti pengembangan riset-riset terdahulu dengan cara menambah variabel baru, menguji teori yang sama dalam konteks berbeda, atau menguji hasil riset terdahulu dalam karakter res. ponden atau informan yang berbeda. Karenanya, periset diminta eksplorasi riset-riset terdahulu,

khususnya yang dipublikasikan di jurnal-jurnal nasional maupun internasional yang terakreditasi atau bereputasi dan terindeks lembaga indeks reputasi .

Jika jenis krisis bencana, maka strategi komunikasi krisis adalah denial, strategi apologia akan membuat sukses untuk jenis krisis manajemen/human error. «Kebaruan» atau «inovatif» tema riset ini bergantung kreativitas pe riset menemukan fakta-fakta menarik dari fenomena yang akan di reset. Agar dapat membuat LBM yang baik, periset dituntut membaca sebanyak mungkin literatur dan hasil-hasil riset terkait tema risetnya. Masalah dimunculkan harus berdasarkan fakta/data ilmiah, bukan argumen yang tidak diperkuat sumber ilmiah.

Yang penting, beberapa poin yang saya jelaskan diatas telah tercakup di LBM dan disampaikan secara terperinci tetapi singkat . Tetapi, halaman yang terlalu sedikit berpotensi membuat LBM tidak berkualitas dan halaman yang banyak berpotensi berisi LBM yang baik. Karena itu, LBM mesti terdapat kata-kata yang merepresentasikan adanya kesenjangan, seperti «namun demikian, tetapi di sisi lainnya» . Saya sampaikan sebuah contoh yang dapat dikategorikan baik, yang merupakan pengembangan lebih lanjut dari matriks yang ada di tabel Ukuran baik adalah telah mampu mendeskripsikan apa yang seh cunya adn dalam LBM, mulai dari adanya research gap hingga menawarkan all the gap.

Apakah alat ukur sudah sesuai dengan apa yang diukurnya tidak sesuai dengan apa yang akan diukur. Riset Kualitatif Autentisitas , yaitu memperluas konstruksi personal yang dia ungkapkan. Periset memberi kesempatan dan memfasilitasi pengungkapan konstruksi personal yang lebih detail sehingga mempengaruhi mudahnya pemahaman yang lebih mendalam. Misalnya, periset memberi peluang informan untuk bercerita panjang lebar tentang apa yang dialaminya dalam konteks wawancara yang informal dan santai.

Untuk bisa mengetahui otentisitas jawaban, salah satunya dengan memberikan waktu yang lebih panjang bagi informan untuk bicara. Selain bisa mendapat jawaban yang detail, makin banyak informan berbicara, semakin besar peluang periset mengecek kebenaran perkataan informan. Ini yang disebut fairness, yakni berkaitan dengan kejujuran. Triangulasi teori, yaitu memanfaatkan dua atau lebih teori untuk diadu atau dipadu.

Untuk itu diperlukan rancangan riset, pengumpulan data, dan analisis data yang lengkap supaya hasilnya komprehensif. Triangulasi periset, yaitu menggunakan lebih dari satu periset dalam mengadakan observasi atau wawancara. Karena masing masing periset mempunyai gaya, sikap, dan persepsi yang berbeda dalam mengamati fenomena maka hasil pengamatannya bisa berbeda meski fenomenanya sama. Sebelumnya, tim perlu mengadakan kesepakatan dalam menentukan kriteria atau acuan pengamatan dan wawancara.

Triangulasi metode, yaitu usaha mengecek keabsahan data atau mengecek keabsahan temuan riset. Triangulasi metode dapat dilakukan dengan menggunakan lebih dari satu teknik pengumpulan data untuk mendapatkan yang sama. Intersubjectivity Agreement Semua pandangan, pendapat atau data

dari suatu subjek didialogkan dengan pendapat, pandangan atau data dari subjek lainnya. Tidak ada data yang dibuang alias kondensasi sehingga menghasilkan simpulan tertentu.

Kemungkinan hasil riset dapat diterapkan dalam konteks lain meski riset kualitatif tidak bermaksud menggeneralisasi data. Berdasarkan definisi metodologi di atas, maka sebutan pertama untuk istilah kuantitatif dan kualitatif di buku ini adalah "metodologi riset". Jansen , juga menyebut metodologi, yakni "...in principle, the labels of quantitative and qualitative apply to methodologies and, by implication, to the methods which constitute specific methodologies." Jadi, metodologi mencakup prinsip-prinsip, asumsi-asumsi, konsep-konsep, dan teori-teori yang mendasari suatu metode mencari/mereset realitas -cara mengumpulkan data, analisis data, dan menginterpretasikan data- sehingga tujuan menghasilkan pengetahuan ilmiah dapat terpenuhi. Akibatnya, tindakan periset dalam meriset adalah saat pengumpulan data akan fokus pada eksplorasi meaning . Kemudian, data dianalisis dengan mendialogkan berbagai meaning sehingga dapat ditarik kesimpulan umum. Cara berpikir demikian, mengadopsi James Anderson , disebut "berpikir secara kualitatif", yang menghasilkan seperangkat prosedur riset kualitatif. Menurut Anderson , istilah kualitatif berasal dari kata "Qualia", yakni produk produk kesadaran, seperti perbedaan , modulasi, kesengajaan . Periset pun akan persepsi/berpikir bahwa setiap individu memiliki kecenderungan yang sama dalam merespons suatu realitas yang sama . Karena respons yang cenderung sama ini, maka temuan data dapat digeneralisasikan dan dihitung berdasarkan standar tertentu , objektif, dan dapat ditafsirkan sama oleh semua orang. Karena tujuannya untuk generalisasi data, maka jumlah responden harus besar atau cakupan riset harus luas. Istilah kuantitatif dan kualitatif juga dapat diartikan sebagai jenis data. Data yang berupa kata-kata, kalimat-kalimat atau narasi-narasi disebut data kualitatif. Data kualitatif juga dapat dimaknai data yang mengandung berbagai dimensi dari berbagai temuan di lapangan. Di lain pihak, karakteristik paradigma positivistik membuat data lebih banyak berupa respons yang cenderung sama, dapat digeneralisasikan, dan dihitung berdasarkan standar tertentu yang objektif, yang diwujudkan dalam bentuk angka-angka numerik. Sebagai jenis data, data kuantitatif dan data kualitatif bersifat netral, yakni dapat hadir pada berbagai paradigma riset. Riset-riset positivistik boleh menggunakan data kualitatif dan riset-riset konstruktivistik pun boleh menggunakan data kuantitatif. Hal ini makin diperkuat dengan kenyataan bahwa data kualitatif dapat dikuantitatifkan dan data kuantitatif dapat dikualitatifkan. Dapat dikualifikasikan sebagai "sebagian besar orang suka menonton program televisi dan sedikit sekali yang suka membaca koran" . Sangat cantik, cantik, biasa saja, tidak cantik, sangat tidak cantik , diubah menjadi data kuantitatif. Bukti bahwa riset-riset positivistik dapat menggunakan data kualitatif dan riset-riset konstruktivis dapat menggunakan data kuantitatif, juga saya kutip dari Miles, dkk. "Tidak ada deskripsi fakta yang lengkap yang secara keseluruhan independen dari situasi sosialnya, akibatnya, periset mengukur interpretasi dari objek daripada objeknya sendiri." . Mengacu Query, dkk., , positivistik bertujuan mengungkap universal Truth , yaitu "satu-satunya

realitas dan objektif yang dapat ditemukan oleh periset yang tidak bisa menggunakan logika deduktif dan kuantitatif" . " Di sisi lain, post positivistik dijelaskan Query bertujuan mencari kemungkinan jawaban yang paling akurat atau ‘get it right as best they can’" , yaitu seperti yang diungkap Neuman , realitas mungkin sulit dinyatakan secara pasti tetapi dapat diprediksi karena memiliki probabilitas untuk terjadi. Tetapi, setelah mempelajari berbagai fakta perilaku Ibrahim dan teori-teori perilaku, periset dapat memprediksi tayangan yang akan ditonton Ibrahim. Prediksi ini merupakan probabilitas/kemungkinan besar tayangan TV yang ditonton Ibrahim. Karena post-positivistik tidak percaya pada deterministik absolut , tetapi lebih percaya bahwa kepastian realitas bersifat probabilitas , maka periset bertujuan mengungkap realitas se-real mungkin agar mendekati probabilitas kepastian yang tinggi . Agar tujuan ini tercapai maka periset dapat menggunakan lebih dari satu metode pengumpulan data yang dapat menghasilkan bukan hanya data kuantitatif tetapi juga kualitatif. Ini yang disebut multiplisme kritis, yaitu mendialogkan berbagai sumber data . Data yang dikumpulkan bukan hanya data kuantitatif, tetapi juga kualitatif. Saya sependapat dengan Singarimbun yang menyebut kombinasi kuantitatif dan kualitatif dengan cara menambahkan informasi kualitatif pada data kuantitatif agar memperkaya data dan lebih memahami realitas yang diriset. O’Donnell, dkk., menyebut critical meier sebagai suplemen bagi positivistik untuk mendapatkan informasi yang lebih komplit. Kognisi yang lebih kompleks tidak sekadar hitung-hitungan matematis. Periset dapat melakukan wawancara, yaitu bertanya lebih detail tentang pertanyaan yang ada di kuesioner. Periset mencatat hasil wawancara tersebut dalam lembar kertas kecil yang disiapkannya. Pertanyaan tertutup adalah pertanyaan dengan pilihan jawaban yang telah disediakan .

Dalam riset kuantitatif, dikenal istilah data primer dan sekunder. Misalnya, riset tentang opini pembaca surat kabar Kompas. Pembagian ke dalam kedua data ini dimungkinkan karena riset kuantitatif berangkat dari paradigma positivistik yang menganggap realitas terpisah dari periset dan responden.

Karena berupaya menggali konstruksi sedalam-dalamnya, maka riset kualitatif sangat didominasi data kualitatif . Meski didominasi data kualitatif, periset masih dimungkinkan menampilkan data kuantitatif untuk nat lebih memperjelas temuannya, yakni untuk dapat menonjolkan as- nek magnitude data . Karena itu, periset kualitatif dibolehkan menyajikan datanya dalam bentuk tabel atau diagram frekuensi.

Menyampaikan perkembangan kajian berupa teori dan riset-riset terdahulu, selain untuk memunculkan masalah juga menunjukkan sebagai kajian komunikasi

« Krisis merupakan suatu keadaan yang tidak dapat diprediksi dan memberikan dampak yang negau terhadap organisasi . Ryza menemukan kasus krisis organisasi yang terjadi di Polandia terjadi karena pengaruh faktor eksternal, yakni masalah ekonomi, sosial dan budaya. » Argumen

di atas diperkuat Benoit & Coombs yang menjelaskan bahwa komunikasi saat krisis identik dengan fungsi PR. Dari fungsi PR, organisasi yang mengalami krisis memerlukan manajemen krisis sebagai upaya menyelesaikan krisis yang terjadi .

PR dianggap memiliki kemampuan berkomunikasi yang baik dengan publik dan stakeholder sehingga keberadaan PR dalam suatu organisasi merupakan kunci utama untuk menjembatani akses informasi organisasi dengan publik . «Menggunakan SCCT manajer krisis dapat mengukur tingkat ancaman krisis sehingga tindakan yang dilakukan oleh organisasi dapat sesuai dan reputasi pat diselamatkan . Banyak riset tentang komunikasi krisis, antara lain Combs yang memaparkan keberhasilan organisasi menyelesaikan krisis ditentukan dari langkah manajer krisis dalam melakukan identifikasi jenis dan klaster krisis sehingga mampu menghasilkan crisis response yang sesuai. Abramenko menemukan bahwa HP berhasil menyelesaikan krisis yang dialaminya terkait tumpahan minyak pada perairan.

Krisis juga dialami oleh TEPCO akibat kesalahan teknis yang menyebabkan bencana nuklir. Hasilnya adalah perusahaan dinilai sudah melakukan tindakan yang benar. Hal ini sejalan dengan pendapat Coombs Holladay menyebutkan bahwa strategi akomodatif seperti permintaan lebih mudah diterima oleh publik daripada strategi yang merujuk pada denial . Tampak adalah yang apologi dan pemberian kereta cepat.

Padahal dengan krisis yang seri harusnya pemerintah China lebih banyak menggunakan strategi apology. Kim mereset strategi Namyang Dairy Product, perusahaan produksi susu di Korea yang pada 2013 mengalami krisis akibat pelanggaran kontrak yang sudah disepakati. Keinginan mendapatkan keuntungan yang besar, mendorong Namyang untuk menekan sales menjual produk dengan skala besar. Hal ini kemudian membuat perusahaan mengabaikan tentang kontrak yang sudah disepakati dan melemparkan tanggung jawab produk yang tidak bisa terjual kepada agen Perusahaan mengabaikan kesepakatan kontrak kerja sama dan situasi ini masuk dalam pelanggaran hukum.

Ketika organisasi dengan atribusi level minimal strategi crisis response yang dapat digunakan adalah excuse dan justification, dan ketika atribusi krisis berada pada level tinggi maka organisasi disarankan menggunakan accommodative strategy terdapat beberapa jenis crisis response seperti denial attack the accuser, scapegoat, excuse, compensation, justification, apology, excuse, victimage. yang membagi dua kutub budaya, yakni budaya Barat dan budaya Timur. Konteks budaya Barat menurut Hofstede & Hol stede mencakup Amerika Serikat, Australia dan Inggris, sedangkan budaya Timur mencakup Jepang China, Hongkong, Korea, Taiwan, dan Indonesia Riset Kim menemukan bahwa di konteks budaya Barat manajer krisis lebih memilih menggunakan strategi akomodatif, seperti apology dan compensation Manajer krisis dalam konteks budaya Timur seperti Korea Taiwan, dan Indonesia ditemukan memiliki dimersi kolektif yang cenderung menggunakan strateg korek seperti justification , excuse . Dengan kata lain, strategic justification,

excuse dan denial diasumsikan meni kecenderungan strategi yang dilakukan oleh perusahan-perusahan Indonesia eka menghadapi krisis.

Objek yang dikaji Kim memiliki klaster intentional yang sudah pasti, Bi krisis disebabkan karena kesalahan perusahaan yang melanggar kesepakatan kontrak kerja. Tetapi, objek kajian riset saat ini memiliki klaster intentional yang tingkat kepastiannya masih menimbulkan kontroversi, yaitu ada pihak yang menyatakan Lapindo Brantas Inc bersalah , tetapi ada pihak yang menyatakan bencana alam . » Media yang dipilih dalam riset ini adalah media alternatif. Hal ini dikarenakan menurut Novenanto , Rushkoff , dan Kriyantono media alternatif lebih memung kinkan opini yang sebenarnya.

Melalui media alternatif, memungkinkan individu menyebarkan pesan-pesan yang tidak dipublikasikan pada media mainstream seperti televisi dan surat kabar. Selain biaya yang rendah, media alternatif dianggap dapat menggantikan media mainstream dan didesain untuk merefleksikan sistem nilai di masyarakat. Pemberitaan yang sering ditemukan pada media, sebagian besar menyudutkan pihak Lapindo Brantas Inc. . Publik menganggap bahwa Lapindo Brantas Inc. adalah pihak yang bersalah dan harus bertanggung jawab.

Anggapan tersebut diperkuat dengan pendapat Batubara bahwa para ahli geologi dalam konferensi internasional di Afrika Selatan pada tahun 2008 sepakat menyatakan jika semburan terjadi akibat adanya aktivitas pengeboran sumur gas yang dilakukan tidak sesuai prosedur oleh Lapindo Brantas Inc. Dengan kata lain, bencana semburan lumpur, menurut opini publik, terjadi karena faktor kesalahan kerja yang diakibatkan oleh manusia dan perusahaan harus meng. Ar-Ruum ayat 41 yang berbunyi «telah tampak kerosakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebatian dari perbuatan mereka, agar mereka kembali ». Krisis yang terjadi pada Lapindo Brantas Inc. dapat dikatakan sebagai extraordinary crisis karena banyak pihak yang dirugikan akibat krisis . Di satu sisi apapun jenis krisis, organisasi harus menangani dengan bak sesuai dengan prinsip SCCT yang menjelaskan bahwa save the public first, maka reputasi positif organisasi akan mengikuti .

Selain, kla a yang man kontroversi, sifat krisis yang extraordinary mendorong dipi. Why Lapindo Brantas Inc. yang mengalami krisis akibat semburan lumpur di Sidoarjo Lapindo Brantas Inc. memiliki persamaan dengan Namyang Company yaitu krisis terjadi karena kesalahan manajemen, pelanggaran hukum dan sama. Hal ini perlu dilakukan oleh organisasi mengingat komunikasi saat krisis perlu dilakukan agar organisasi dan publik memiliki satu kesatuan pengetahuan yang sama mengenai krisis yang sedang terjadi . Majalah Solusi digunakan dalam riset ini karena merupakan salah satu media yang digunakan PR Lapindo Brantas Inc. untuk berkomunikasi secara dua arah dengan publik.

Menggunakan majalah Solusi, Lapindo Brantas Inc. berusaha menjawab dan menghilangkan kesenjangan informasi dengan publik yang merugikan organisasi melalui opini, fakta hukum, dan fakta sosial . Selain itu, penggunaan media cetak karena berita media cetak yang berkaitan dengan organisasi terlebih dahulu melalui tahap penyaringan dan pemilihan berita yang dilakukan oleh editor sebelum dipublikasikan kepada publik . Penggunaan headline dalam riset ini dikarenakan berita yang terdapat pada headline cukup mewakili arah isi pemberitaan pada majalah Solusi. Headline berita mampu menarik pembaca karena mereka yang membeli koran atau majalah umumnya melihat headline terlebih dahulu sebelum mereka memutuskan apakah isu-isu tersebut menarik untuk dibaca bagi mereka atau tidak .

Solusi edisi ke-1 hingga edisi ke-35?

« Semua kriteria teknik praktis membuat LBM yang saya sampaikan di atas, telah terkandung dalam RM ini. Mala Sobwi merupakan media cetak yang dibuat atas kerja sama PR Lapindo Brantas Inc dan Institute of Study dan meng-hire akademisi dan ilmuwan.

Ciri-ciri LBM yang Harus Dihindari

Di bagian ini, saya menyampaikan ciri-ciri LBM yang tidak baik agar menjadi pelajaran untuk tidak dilakukan. Isi LBM yang tidak baik ini berseberangan dengan kriteria LBM yang baik yang telah saya jelaskan di atas. Belum ada kajian-kajian literatur, baik riset-riset terdahulu dan teori teori, yang mampu memunculkan state of art dalam bidang yang dikaji, yaitu melihat bidang kajian dan mengenali perkembangan kajian termasuk berbagai perspektif kajian, serta apakah tujuannya adalah sebuah realitas/fenomena/objek formal kajian komunikasi atau merupakan masalah komunikasi. Belum mampu secara eksplisit menjelaskan bahwa eksplorasi literatur tersebut dipadu dengan sumber ilmiah lain telah mendasari munculnya kesenjangan atau yang mendasari muncul.

Akibatnya, tidak ada hubungan antar paragraf yang runtut. Menyampaikan argumen/deskripsi yang lemah secara ilmiah karena tidak didukung atau tidak jelas sumber kutipan. Argumen yang tidak didukung sumber ilmiah dapat membuat LBM berisi opini atau asumsi-asumsi pribadi. Tidak menggunakan teknik referencing yang jelas, misalnya, cara mengutip, cara menulis tabel, menulis daftar pustaka atau catatan kaki.

Argumen tanpa sumber kutipan jelas atau teknik referencing yang tidak jelas berpotensi memunculkan plagiarisme.

MENULIS TUJUAN DAN MANFAAT RISET

Tujuan riset adalah menjawab permasalahan riset. Jadi jika perumusan masalah dalam bentuk kalimat tanya, tujuan berbentuk kalimat pernyataan. Tujuan riset tidak sama dengan tujuan periset. Tujuan periset adalah tujuan pribadi yang tidak ada kaitannya dengan upaya menjawab masalah riset.

Atau

ter tokoh politik pendukung Jokowi sama dengan profil follower Twitter tokoh politik pendukung Prabowo.

Riset yang mempunyai manfaat bagi upaya-upaya mengubah struktur hur sosial dan mengubah cara pandang atau cara berpikir yang keliru dari masyarakat . Riset ini mencoba mengkritisi struktur sosial yang menurutnya kurang ideal karena cenderung tidak adil, di dominasi kelompok tertentu dan mengasingkan kelompok marginal Isi komunikasi dianggap cenderung memihak pada kelompok yang berkuasa atau komunikasi dijadikan alat hegemoni pihak-pihak tertentu. Karena itu riset-riset yang masuk dalam kategori ini dikenal dengan aliran kritis Contoh ditemukan pada riset-riset media studies atau critical studies, seperti analisis framing dan analisis wacana kritis. Frame media ini dapat menciptakan cara pandang atau pola pikir "bahwa tempat hiburan apapun bentuknya dibolehkan dan segala tindakan yang melarangnya disebut kekerasan, mengganggu stabilitas, dan melanggar hukum." Di sisi lain, cara pandang "maraknya kemaksiatan" tidak tampak.

Manfaat Metodologis

Manfaat metodologis dapat digabung dengan manfaat teoritis . Riset diharapkan bermanfaat menghasilkan atau mengembang kan sebuah metode riset yang baru. MANFAAT RISET BAGI STUDI DAN PRAKTIK KOMUNIKASI

Riset memegang peran penting dalam praktik komunikasi. Proses komunikasi ditujukan untuk menciptakan komunikasi yang efektif. Dengan demikian, segala bidang komunikasi, baik itu hubungan masyarakat , periklanan , penyiaran , dan jurnalistik dituntut menciptakan komunikasi yang efektif agar tercapai tujuan yang diharapkan. Komunikasi yang efektif mensyaratkan adanya pertukaran informasi dan kesamaan makna antara komunikator dan komunikan.

Banyak pakar yang memberikan batasan mengenai komunikasi yang efektif. Tubbs dan Moss dalam bukunya Human Communication memberikan kriteria komunikasi efektif, yaitu bila terjadi pengertian, menimbulkan kesenangan, pengaruh pada sikap, hubungan yang semakin baik, dan perubahan perilaku yang diinginkan komunikator. Bila setelah berbicara, pihak yang satu merasa tidak senang, marah, terjadi hubungan semakin renggang, maka telah terjadi kegagalan sekunder dalam proses komunikasi . Untuk dapat menciptakan komunikasi yang efektif, maka harus

dilakukan persiapan-persiapan secara matang terhadap seluruh komponen proses komunikasi, yaitu komunikator, pesan, saluran komunikasi, komunikan, efek, umpan balik bahkan faktor gangguan yang mungkin terjadi.

Dengan kata lain, proses komunikasi yang akan dilakukan harus didahului dengan upaya pemeriksaan terhadap pertanyaan "Who says what in which channel to whom with what effect" . Di sinilah posisi riset. ponen komunikasi di atas harus didasari atas data empiris yang berisi deskripsi detail mengenai karakteristik masing-masing komponen. Data empiris ini tentunya hanya dapat diperoleh melalui kegiatan riset, sehingga keputusan yang diambil akan mencerminkan situasi realitas sebenarnya yang akan dihadapi.

Pertanyaan-pertanyaan ini memerlukan jawaban yang berdasarkan data yang benar dan dapat dipercaya yang hanya dapat diperoleh melalui riset ilmiah. Selain itu, sebagai ilmuwan ataupun praktisi komunikasi, kita dituntut selalu mengembangkan khazanah ilmu kita melalui riset. Kemudian memonitor perkembangan apakah yang sudah direncanakan penting melakukan sedang berjalan baik atau apakah perubahan perlu dibuat. Akhirnya PR dituntut mengevaluasi apa yang telah dicapai agar dapat menentukan rencana untuk masa datang.

Riset dalam kegiatan PR merupakan rangkaian proses yang tidak berkesudahan atau seperti lingkaran yang berkelanjutan . Riset dimulai dari kegiatan rutin PR dalam melakukan perekaman atau kegiatan pengumpulan fakta-fakta atau informasi untuk keperluan perencanaan kegiatan. Setelah tujuan-tujuan PR dirumuskan, fakta-fakta yang telah terkumpul digunakan untuk memformulasikan hipotesis, mengujinya dan membuat revisi jika diduga tidak berhasil. Setelah itu, perlu dilakukan kegiatan pengumpulan data lagi untuk mencari informasi tambahan tentang situasi, publik atau media yang digunakan.

PR harus mengevaluasi citra publik tentang perusahaannya, bagaimana cara terbaik untuk merepresentasikan PR objective kepada publik, menentukan waktu yang tepat untuk melakukan kegiatan atau menyebarkan pesan, menentukan metode yang tepat untuk mencapai publik dan pesan apa yang efektif . Semua langkah di atas memerlukan riset. Jadi, dapat dikatakan bahwa praktik public relations diawali dan diakhiri dengan riset. Mereportase apa yang terjadi dalam manajemen.

Mereportase apa yang terjadi di perusahaan. E Menganalisis apa yang terjadi secara keseluruhan, baik saat kondisi normal maupun krisis.

Riset dalam Kajian dan Praktik Manajemen Komunikasi Bisnis

Marketing Brief adalah informasi-informasi pemasaran yang yang dibuat dan diserahkan pengiklan kepada biro iklan. Marketing brief biasanya berisi informasi tentang siapa segmen dan

target periklanan, bagaimana karakter produk , bagaimana kebijakan harga, saluran distribusi, alat-alat promosi lain di luar iklan, bagaimana kebijakan pemerekan , bagaimana pelayanan yang diberikan kepada konsumen serta bagaimana proses yang terjadi di perusahaan untuk mendukung pemasaran produk. Dari kegiatan riset akan diketahui karakteristik khalayak disesuaikan dengan karakter produk, bagaimana posisi produk di tengah persaingan dengan kompetitornya, bagaimana sikap khalayak terhadap produk, media mana yang paling efektif dan efisien untuk dipilih sebagai media beriklan, dan informasi marketing lainnya. Dari riset yang dilakukan dapat pula diambil keputusan mengenai tujuan periklanan, apakah iklan bertujuan informasi, persuasi atau mengingatkan konsumen akan suatu produk.

Tujuan yang dirumuskan ini akan mempengaruhi tahapan berikutnya, seperti penentuan anggaran, strategi kreatif iklan nya, pemilihan media sampai cara berkampanye. Pada akhirnya semua tahap yang telah dilakukan dievaluasi lagi untuk dijadikan masukan bagi rencana ke depan. Misalnya, meriset apakah khalayak sasaran memahami kreatif iklan yang disampaikan , bagaimana respons khalayak terhadap iklan tersebut, dan apakah frekuensi terpaan iklan di media telah cukup Bagaimanapun sebelum menentukan strategi pemasaran sebuah produk, produsen harus mengenal karakteristik khalayak sasaran . Bagi masyarakat kota besar yang mempunyai karakteristik ingin dihargai, nama rokok tersebut berkonotasi dengan sesuatu yang rendah, tidak memiliki status dan hanya bawahan .

Riset dalam Kajian Komunikasi Massa/Studi Media

Komunikasi massa adalah proses komunikasi yang dimediasi oleh media massa sehingga pesan dapat disebarkan dan diterima secara cepat, serentak, simultan, dan menjangkau khalayak yang luas dan heterogen. Riset komunikasi massa merupakan riset awal yang melatari kajian-kajian komunikasi sebagai ilmu, terutama pada saat perang dunia di abad 20 dan munculnya penemuan-penemuan teknologi komunikasi, seperti tv, radio, film maupun surat kabar. Pesan media dianggap bukan sesuatu yang netral, tetapi mengandung agenda-agenda dan ideologi-ideologi tertentu. Dalam kenyataan, seorang praktisi dapat lebih bebas melakukan riset tanpa aturan-aturan metodologi yang ketat.

Para manajer berdialog, menanyakan kabar atau masalah yang dihadapi karyawan, baik pribadi maupun permasalahan yang berkaitan dengan perusahaan. Sambil berdialog itu, manajer dapat mencatat apa saja problematika yang dihadapi karyawan. Ini termasuk kategori pengumpulan data yang dilakukan secara informal.

Relasi Tujuan dan Manfaat dengan Simpulan dan Saran

Pada dasarnya manfaat riset adalah sesuatu yang diharapkan dapat tercapai melalui riset yang dilakukan. Di bab saran, periset menyarankan agar dapat dilakukan riset yang lebih bisa mengembangkan atau menindaklanjuti temuan datanya agar ilmu bisa lebih berkembang.

Prosedur riset adalah dengan menjelaskan fenomena dengan sedalam-dalamnya melalui pengumpulan data sedalam-dalamnya, yang oleh Geertz disebut «thick description.» Lebih fokus pada kedalaman daripada keluasan . Karenanya, tidak ada istilah sampel, responden dan objek riset. Karena bersifat aktif dan berdialog, maka individu yang diriset disebut partisipan, informan atau subjek riset. Riset kualitatif ini pun tidak mengutamakan besarnya populasi atau sampel, melainkan disesuaikan dengan ketercukupan data.

Karena itu, jumlah informan riset kualitatif biasanya lebih terbatas dari riset kuantitatif.

Prinsip saturation, yakni periset dapat memulai dan mengakhiri riset kapan pun tergantung ketersediaan dan kebaruan data karena pengumpulan dan analisis data dilakukan bersamaan di lapangan . Berbeda dengan riset kuantitatif yang harus menunggu semua data masuk agar dapat dianalisis, riset kualitatif sudah dapat menganalisis saat pertama mengumpulkan data dan hal ini terus berlangsung hingga periset merasa datanya sudah cukup. Misalnya, riset mewawancarai informan pertama langsung dianalisis, sampai informan ketujuh, jawaban masih bervariasi. Dalam situasi ini, periset dapat memutuskan bahwa telah terjadi data jenuh, yakni tidak ada informasi yang benar-benar baru dari jawaban informan dan karenanya periset dapat mengakhiri pengumpulan data .

Prinsip saturation banyak diterapkan pada riset kualitatif yang pe riset belum tahu siapa saja informannya, tetapi, juga dapat diterapkan dalam riset yang periset sudah mengetahui siapa saja yang bakal menjadi informannya. Jadi, jumlah informan pun bersifat cair, terkadang tidak dapat ditentukan pada saat memulai riset. Inilah yang disebut prinsip saturation.

Tidak ada realitas yang tunggal, setiap periset mengkreasi realitas sebagai bagian dari proses risetnya. Saat kita ditanya «bagaimana cara Anda makan?» maka ja jawaban kita sebenarnya bukan sepenuhnya dari kita semua, tetapi, kita adopsi dari ajaran ibu dan ayah kita, yang telah menjadi satu kesatuan dengan kita sehingga menjadi konstruksi kita tentang cara makan. TAHAPAN RISET Riset adalah proses yang memiliki tahapan. Tahap ini merupakan tahap yang menyertai seluruh proses periset.

Jadi periset tidak lebih dari proses menanyakan sesuatu yang menarik, sebuah pertanyaan, dan menyediakan jawaban secara sistematik. Ada yang mencari informasi dengan menguji dokumen-dokumen , artefak-artefak, observasi partisipan, kuesioner, eksperimen terkontrol, dan wawancara, yang semuanya bisa digunakan untuk menjawab pertanyaan. Periset pada tahap ini mencoba mendefinisikan, menggambarkan, dan menjelaskan serta memberikan penilaian terhadap data yang diperoleh nya. dan menguji teori juga dapat menghasilkan pengetahuan atau teori baru Pertanyaan Teori Pengamatan

Ketiga tahap bukan sebuah proses linear, melainkan sebuah proses yang memungkinkan setiap tahap saling mempengaruhi 54 Tahap pengamatan sering menstimulasi masing pertanyaan te me salah baru. Teori sering memunculkan pertanyaan baru dan menentukan metode observasi apa yang harus dilakukan Pengenalan Tahapan Riset Kuantitatif Dari Gambar 3.1, dapat dikatakan

bahwa tahapan riset dapat dims Tai dari pengujian teori atau dimulai dari pengkonstruksian teori. Karenanya, tahapan riset kuantitatif ini dimulai dari desain yang baku dan rigid sehingga terjamin validitas dan reliabilitas alat ukurnya dan respondennya. Pengenalan Tahapan Riset Kualitatif Yang kedua, yakni tahapan riset dimulai dari pengamatan di lapangan kemudian ditarik menjadi simpulan-simpulan teoritis, dikenal dengan paradigma/pendekatan subjektif atau banyak diasosiasikan dengan riset Kualitatif.

Secara umum tahapan riset Kualitatif dapat dilihat di Gambar 3.3, 55 yang merupakan pengenalan lebih lengkap darí Gambar 3.1 di atas, Riset kualitatif bersifat iterative/recursive, yakni proses riset bersifat ulang-ulang dan tidak satu arah . Periset bisa langsung turun lapangan untuk koleksi data meski belum menyusun desain atau sudah menyusun proposal, tetapi, proposal tersebut bersifat cair, bisa berubah sesuai dengan data yang ditemukan, Desain pun bisa dibuat saat berada di lapangan. Namun demikian, dosen biasanya meminta mahasiswa untuk membuat proposal agar dosen bisa memahami pola berpikir dan apa yang dimaksud mahasiswa, sebagai sarana diskusi. Meskipun dimungkinkan periset belum memiiki konsep pasti se di lapangan, seperti ditemui pada riset eksploratif , secara umum periset kualitatif meg sudah memiliki dan memahami konsep terkait realitas yang ingin diketahuinya. Dari Wimmer & Dominick , paradigma diartikan sebagai «seperangkat teori, prosedur, dan asumsi yang diyakini tentang bagaimana periset melihat dunia.» Grunig & White, dua periset public relations, menyebut paradigma sebagai worldview, yaitu «asumsi tentang dunia yang dimiliki seorang ilmuwan yang merupakan kerangka konseptual dalam pikirannya yang menentukan bagaimana dia memandang realitas, seperti apa yang menjadi fokus perhatiannya, dan bagaimana dia membuat simpulan» . Denzin & Lincoln mendefinisikan paradigma sebagai «a basic set of belief that guide action ... it is human construction.» Jadi, paradigma merupakan keyakinan yang mengandung prinsip-prinsip pokok terhadap realitas yang kemudian mengarahkan cara mereset realitas tersebut. Sebuah objek yang sama dapat digambarkan berbeda oleh individu yang berbeda. Misalnya, seorang dosen menunjukkan sebuah spidol yang biasa digunakan sebagai alat tulis di papan tulis.

Referensi :

Kriyantono, R. (2006). Teknik praktis riset komunikasi kuantitatif dan kualitatif (2th ed.). Jakarta: PRENADAMEDIA GROUP.

Komentar