Resume Bab 2-3 Buku "Teknik Praktis Riset Komunikasi Kuantitatif dan Kualitatif"
Nama : Laksamana Fhadillah Armandio Lubis
NIM : 195120207111065
Kelas : MPK II (E.KOM-4)
PARADIGMA
Dari Wimmer & Dominick ,
paradigma diartikan sebagai «seperangkat teori, prosedur, dan asumsi yang
diyakini tentang bagaimana periset melihat dunia.» Grunig & White, dua
periset public relations, menyebut paradigma sebagai worldview, yaitu «asumsi
tentang dunia yang dimiliki seorang ilmuwan yang merupakan kerangka konseptual
dalam pikirannya yang menentukan bagaimana dia memandang realitas, seperti apa
yang menjadi fokus perhatiannya, dan bagaimana dia membuat simpulan» . Denzin
& Lincoln mendefinisikan paradigma sebagai «a basic set of belief that
guide action ... it is human construction.» Jadi, paradigma merupakan keyakinan
yang mengandung prinsip-prinsip pokok terhadap realitas yang kemudian
mengarahkan cara mereset realitas tersebut. Sebuah objek yang sama dapat
digambarkan berbeda oleh individu yang berbeda. Misalnya, seorang dosen
menunjukkan sebuah spidol yang biasa digunakan sebagai alat tulis di papan
tulis.
Literatur lain ada yang
menganggap paradigma dan perspektif berbeda. « Bahkan Denzin & Lincoln
menyebut jenis-jenisnya sama, yaitu positivistik, konstruktivistik dan
participatory action framework, dan yang hanya disebut perspektif adalah
feminisme, critical race theory, queer theory dan cultural studies. Pak,»
karena yang diperlihatkan padanya adalah bagian tubuh spidol Mahasiswa bernama
Ibrahim menjawab «hitam Pak,» karena yang di. Jawaban lain, dari mahasiswa
bernama Zahra, adalah «putih dan hitam» karena yang diperlihatkan adalah
seluruh bagian spidol.
Seorang remaja yang sering
membawa bingkisan sebagai buah tangan saat berkunjung ke rumah kekasihnya dapat
ditafsirkan berane. Foto yang diupload di Facebook, dapat diartikan sebagai
pamer wajah , ungkapan kebahagiaan, atau menunjukkan eksistensi. Fatwa Majelis
Ulama Indonesia dapat diartikan perlu dibela sehingga muncul Gerakan Nasional
Pembela Fatwa/GNPF , sedangkan Fatwa MUI yang lainnya dianggap tidak perlu
dibela.
Dua Sifat Paradigma: Membatasi
dan Selektif
Berdasarkan paradigma itu, dia
memperhatikan, menginterpretasi, dan memahami stimulus dari realitas yang
ditemui serta mengabaikan stimulus lainnya, lalu berperilaku berdasarkan
pemahamannya lewat paradigma itu. Jadi, realitas yang kita tangkap dan
tafsirkan bukanlah realitas yang utuh, melainkan realitas yang telah kita pilih
beberapa aspek tertentu saja yang kita anggap menarik dan penting sehingga
membatasi perilaku kita sesuai pilihan paradigma kita. Mult, orang akan
mempunyai paradigma tertentu jika dia hidup dalam kelompok dan berinteraksi
dengan orang lain, seperti keluarga dan sosial-budaya tertentu yang menjadi
kelompok rujukannya. Di sisi lain, si istri memandang bahwa bersih adalah bebas
dari najis sehingga lantai yang bebas dari sampah, debu, noda atau kotoran lain
pun belum tentu disebut bersih .
Si istri pun mempersepsi lantai
ru mahnya perlu dipel, tidak cukup disapu, karena bisa jadi mengandung najis
yang tidak terlihat meski mengering . Suami tidak mau terima dianggap pemalas
karena ia menilai lantai sudah bersih sehingga tidak ada lagi yang perlu
dibersihkan.
PERBEDAAN PARADIGMA DALAM RISET
Pengetahuan mengenai paradigma
ini penting bagi seorang periset. Lawrence Neuman menyebut sebagai «keseluruhan
sistem berpikir» ketika ingin memahami suatu realitas. Paradigma akan
menentukan jenis metode riset, yang mencakup cara mereset, mengukur realitas,
mengumpulkan data, dan memahami realitas, meskipun realitas yang diriset sama.
Pernyataan Daymon & Holloway ini selaras dengan pernyataan Potter bahwa
paradigma yang berbeda membuat cara meriset yang berbeda pula karena paradigma
membuat orang berbeda cara pandang terhadap bukti, cara analisis, dan tujuan
riset.
Dalam riset sosial, termasuk
komunikasi, terdapat beberapa paradigma. Buku ini mendeskripsikan tiga
paradigma, yaitu positivistik, interpretif/konstruktivis, dan kritis . Di buku
ini, saya menyebut konstruktivis sama dengan interpretif. Den mengatakan bahwa
paradigma objektif sering d antkan dengan h positivistik dan paradigma objek
diniatkan dengan ihr den konstruktivis.
Dedy N. 16 dayat , menggunakan
intibah digma kii untuk merjak etsy positivistik dan menggunalian
konstruktivis. Positivistik kemudian mendapatkan krik sehingga memunculkan
paradigma post positivistik, yang memungkinkan kombinasi data ralts parade
riset positivistik Beberapa literatur, juga menyebut paradigma lain, yaitu
pragmatis, webo- wh paradigms yang mendorong munculnya metode campuran thode .
Paradigma pragmatis ini lebih mengarahkan pada aplikasi atas masalah-masalah
yang ada daripada fokus pada metodenya. Misalnya, riset dapat dimulai dengan
positivistik, kemudian dapat dilanjutkan dengan konstruktivistik, dan
sebaliknya, Dengan melakukan riset berdasarkan dua paradigma, maka akan
mencampur pula metodenya.
Jadi, metode campuran juga
dapat diartikan mencampur beberapa metode, seperti metode observasi dan
wawancara dengan metode survei. Gerald Cocok menyebut interpretif wes n bergantian
dengan konstruktivis Saya menyamakan paradigma kritis enan
advokasi/partisipatoris karena, mengare pads Creswell 200o adanya memiliki
ciri-ciri yang sama.
Epistemologi adalah landasan filosofis tentang bagaimana metode atau cara melakukan riset. Aksiologis menyangkut tujuan atau untuk apa mempelajari sesuatu . Perbedaan paradigma ini akan mempengaruhi metodologi, yaitu bagaimana proses risetnya, dan metode risetnya, yaitu teknik-teknik dalam menemukan pengetahuan. Seperti dalam kehidupan sehari-hari, dalam riset ptun dimungkinkan berbagai paradigma Berbagai cara pandang ini diperlukan untuk memperkaya hasil riset, yakni menjawab beberapa permasalahan.
Interaksi dan kepercayaan dari
individu-individu menciptakan realitas
Dimungkinkan terjadi perkembangan
pembagian paradigma dengan munculnya jenis jenis pengelompokan paradigma yang
lain.
PENGERTIAN METODOLOGI DAN
METODE
Artinya, metode adalah
teknik-teknik yang berisi tahapan yang dilakukan periset dalam memecahkan
masalah risetnya dalam proses yang sistematis. Kaitan metodologi dan metode
juga disampaikan Klaus Jensen , yakni menyebut metodologi sebagai "a
heuristic for a mode of inquiry" yang merupakan titik pertemuan antara
tindakan konkret dan alat analisis dan bingkai interpretasi menyeluruh sehingga
metodologi merupakan "the structured sets of procedures and instruments by
which empirical phenomena are registered, documented, and interpreted." .
Yakni seperangkat prosedur dan instrumen terstruktur yang digunakan mencatat,
mendokumentasikan dan menginterpretasi fenomena empiris.
ISTILAH KUANTITATIF DAN
KUALITATIF
Penggunaan istilah kuantitatif
dan kualitatif berbeda-beda di berbagai literatur. Tidak ada satu definisi
pasti tentang kedua istilah ini. Kualitatif. Kuantitatif disebut secara
beragam, bahkan di dalam satu buku, seperti disebut sebagai paradigma, sebagai
metode riset, metode pengumpulan data atau sebagai jenis riset .
Buku ini konsisten menyebut
"positivistik, post positivistik, konstruktivis, dan kritis" sebagai
paradigma/pendekatan dan istilah kualitatif dan kuantitatif merujuk pada
metodologi riset, jenis data, serta sifat analisis. Kedua, memahami dasar
filosofis paradigma. Jangan sampai terjadi penggunaan istilah menyebabkan
kesalahan pemahaman dan kesalahan prosedur riset, termasuk pemilihan teori.
Sebagai Metodologi Riset
Berdasarkan definisi metodologi
di atas, maka sebutan pertama untuk istilah kuantitatif dan kualitatif di buku
ini adalah "metodologi riset". Jansen , juga menyebut metodologi,
yakni "...in principle, the labels of quantitative and qualitative apply
to methodologies and, by implication, to the methods which constitute specific
methodologies." Jadi, metodologi mencakup prinsip-prinsip, asumsi-asumsi,
konsep-konsep, dan teori-teori yang mendasari suatu metode mencari/mereset
realitas -cara mengumpulkan data, analisis data, dan menginterpretasikan data-
sehingga tujuan menghasilkan pengetahuan ilmiah dapat terpenuhi. Akibatnya,
tindakan periset dalam meriset adalah saat pengumpulan data akan fokus pada eksplorasi
meaning . Kemudian, data dianalisis dengan mendialogkan berbagai meaning
sehingga dapat ditarik kesimpulan umum.
Cara berpikir demikian,
mengadopsi James Anderson , disebut "berpikir secara kualitatif",
yang menghasilkan seperangkat prosedur riset kualitatif. Menurut Anderson ,
istilah kualitatif berasal dari kata "Qualia", yakni produk produk
kesadaran, seperti perbedaan , modulasi, kesengajaan . Periset pun akan
persepsi/berpikir bahwa setiap individu memiliki kecenderungan yang sama dalam
merespons suatu realitas yang sama . Karena respons yang cenderung sama ini,
maka temuan data dapat digeneralisasikan dan dihitung berdasarkan standar
tertentu , objektif, dan dapat ditafsirkan sama oleh semua orang.
Karena tujuannya untuk
generalisasi data, maka jumlah responden harus besar atau cakupan riset harus
luas.
Sebagai Jenis Data
Istilah kuantitatif dan
kualitatif juga dapat diartikan sebagai jenis data. Data yang berupa kata-kata,
kalimat-kalimat atau narasi-narasi disebut data kualitatif. Data kualitatif
juga dapat dimaknai data yang mengandung berbagai dimensi dari berbagai temuan
di lapangan. Di lain pihak, karakteristik paradigma positivistik membuat data
lebih banyak berupa respons yang cenderung sama, dapat digeneralisasikan, dan
dihitung berdasarkan standar tertentu yang objektif, yang diwujudkan dalam
bentuk angka-angka numerik.
Sebagai jenis data, data
kuantitatif dan data kualitatif bersifat netral, yakni dapat hadir pada
berbagai paradigma riset. Riset-riset positivistik boleh menggunakan data kualitatif
dan riset-riset konstruktivistik pun boleh menggunakan data kuantitatif. Hal
ini makin diperkuat dengan kenyataan bahwa data kualitatif dapat
dikuantitatifkan dan data kuantitatif dapat dikualitatifkan. Dapat
dikualifikasikan sebagai "sebagian besar orang suka menonton program
televisi dan sedikit sekali yang suka membaca koran" .
Sangat cantik, cantik, biasa
saja, tidak cantik, sangat tidak cantik , diubah menjadi data kuantitatif.
Bukti bahwa riset-riset positivistik dapat menggunakan data kualitatif dan
riset-riset konstruktivis dapat menggunakan data kuantitatif, juga saya kutip
dari Miles, dkk.
Data Kuantitatif dan Kualitatif
Bisa Ada dalam Berbagai Paradigma
Dari Tabel 2.1-2.4 dan
penjelasan sebelum ini, paradigma konstruktivis dan kritis banyak
mengeksplorasi meaning dengan menggali data mendalam dan memerlukan
narasi-narasi mendalam tentang realitas. Individu-individu diberi peluang besar
mengkonstruksi ide, motif, dan pengalamannya. Karenanya, riset yang berdasarkan
paradigma konstruktivis dan kritis banyak menghasilkan data kualitatif, yaitu
kata-kata, kalimat kalimat dan narasi-narasi mendalam. "Most qualitative
researchers examine qualitative data, and vice versa " .
Tidak mengherankan jika riset
berdasarkan paradigma konstruktivis dan kritis sering disebut riset kualitatif
dan riset berdasarkan paradigma positivistik sering disebut riset kuantitatif.
" Kata ‘sering disebut bukan berarti "sama dengan karena bisa saja
hanya menjadi kebiasaan karena sering atau banyak dilakukan. Pendapat Neuman
ini sama dengan pendapat Miles dkk. Karenanya, yang lebih tepat adalah
"diasosiasikan" bukan "sama dengan", yakni riset
positivistik diasosiasikan dengan riset kuantitatif, dan konstruktivis
diasosiasikan dengan kualitatif.
Diasosiasikan dengan metode kualitatif dan positivistik diasosiasikan de- kuantitatif. Sama seperti istilah Kuantitatif dan Kualitatif. Karena paradigma konstruktivis memandang realitas terbangun dari konstruksi-konstruksi pemaknaan yang beragam, maka datanya pun didominasi berupa data kualitatif . Karena didominasi data kualitatif maka paradigma konstruktivis seakan-akan hanya berisi data kualitatif.
Penjelasan saya di atas selaras
dengan pendapat Wimmer & Domi
Meski demikian, cara aplikasi
metode tetap disesuaikan dengan paradigma periset seperti saya jelaskan sebelum
ini, karena paradigma adalah "your philosophical orientation towards
research" dan paradigma yang berbeda membuat cara meriset yang berbeda
pula karena paradigma membuat orang berbeda cara pandang terhadap bukti, cara analisis,
dan tujuan riset . Dapat disimpulkan, walaupun riset kuantitatif dan kualitatif
dimung kinkan memiliki metode/teknik/alat pengumpulan data yang sama, misalnya
sama-sama wawancara, tetapi, tujuan riset, pertanyaan riset, cara data
diinterpretasikan, cara bertanya, posisi periset dengan yang diriset, cara
berpikir periset, tujuan riset, dan kedalaman datanya akan berbeda. Periset
kuantitatif melakukan wawancara dengan pertanyaan yang didesain dari
teori-teori umum sehingga periset tidak bebas merumuskan pertanyaan meskipun
responden bebas mengekspresikan jawaban. Periset kualitatif bebas
mengkonstruksi pertanyaan sebebas informan dalam menjawab dan mengkonstruksi
realitas kemudian menyampaikannya ke dalam simpulan umum .
PARADIGMA DAN PEMILIHAN TEORI
Paradigma juga menentukan
teori-teori yang digunakan. Tetapi, tidak semua fenomena dijelaskan teori
kareena teori hanya mengklarifikasi dan menjelaskan beberapa aspek dunia nyata
. Pendapat ini sejalan dengan pernyataan bahwa "teori adalah konstruksi"
seorang ilmuwan tentang apa yang ingin dia jelaskan dan bagaimana cara
menjelaskannya. "Suatu teori, pada dasarnya tidak bisa benar atau salah,
melainkan sekadar alat yang efisien dan bermanfaat untuk menjelaskan suatu
realitas." .
Dari deskripsi di atas, dapat
disimpulkan bahwa pemilihan teori juga sangat tergantung paradigma ilmuwan
dalam melihat dunia.
POSITIVISTIK DAN
POST-POSITIVISTIK
Guba & Lincoln , Query,
Wright, Amason, dkk , dan Tashakkori & Teddlie mendeskripsikan bahwa pandangan-pandangan
positivistik mendapat kritikan, terutama setelah Perang Dunia II. Periset dan
realitas yang dirisetnya semestinya saling terkait dan konstruksi periset pun
masuk dalam mengkonstruksi realitas. Akibat kritikan ini, sebagian kaum positivis
memutuskan mengakomodasi beberapa pandangan kualitatif, tetapi masih
mempertahankan asumsi dasar dari positivistik. "Situasi ini senada dengan
tulisan Fischer bahwa "Post- positivistik berakar dari perpaduan ilmu alam
dan histori dan sosiologi.
PENGARUH POST-POSITIVISTIK
DALAM RISET POSITIVISTIK
"Tidak ada deskripsi fakta
yang lengkap yang secara keseluruhan independen dari situasi sosialnya,
akibatnya, periset mengukur interpretasi dari objek daripada objeknya
sendiri." . Mengacu Query, dkk., , positivistik bertujuan mengungkap
universal Truth , yaitu "satu-satunya realitas dan objektif yang dapat
ditemukan oleh periset yang tidak bisa menggunakan logika deduktif dan
kuantitatif" . " Di sisi lain, post positivistik dijelaskan Query
bertujuan mencari kemungkinan jawaban yang paling akurat atau ‘get it right as
best they can’" , yaitu seperti yang diungkap Neuman , realitas mungkin
sulit dinyatakan secara pasti tetapi dapat diprediksi karena memiliki
probabilitas untuk terjadi. Tetapi, setelah mempelajari berbagai fakta perilaku
Ibrahim dan teori-teori perilaku, periset dapat memprediksi tayangan yang akan
ditonton Ibrahim.
Prediksi ini merupakan
probabilitas/kemungkinan besar tayangan TV yang ditonton Ibrahim. Karena
post-positivistik tidak percaya pada deterministik absolut , tetapi lebih
percaya bahwa kepastian realitas bersifat probabilitas , maka periset bertujuan
mengungkap realitas se-real mungkin agar mendekati probabilitas kepastian yang
tinggi . Agar tujuan ini tercapai maka periset dapat menggunakan lebih dari
satu metode pengumpulan data yang dapat menghasilkan bukan hanya data
kuantitatif tetapi juga kualitatif. Ini yang disebut multiplisme kritis, yaitu
mendialogkan berbagai sumber data .
Data yang dikumpulkan bukan
hanya data kuantitatif, tetapi juga kualitatif. Saya sependapat dengan
Singarimbun yang menyebut kombinasi kuantitatif dan kualitatif dengan cara
menambahkan informasi kualitatif pada data kuantitatif agar memperkaya data dan
lebih memahami realitas yang diriset. O’Donnell, dkk., menyebut critical meier
sebagai suplemen bagi positivistik untuk mendapatkan informasi yang lebih
komplit. Kognisi yang lebih kompleks tidak sekadar hitung-hitungan matematis.
Periset dapat melakukan wawancara, yaitu bertanya lebih detail tentang pertanyaan yang ada di kuesioner. Periset mencatat hasil wawancara tersebut dalam lembar kertas kecil yang disiapkannya. Pertanyaan tertutup adalah pertanyaan dengan pilihan jawaban yang telah disediakan .
Metodologi Riset Komunikasi
KARAKTERISTIK METODOLOGI RISET KUANTITATIF
Didominasi Data Kuantitatif
Seperti saya sampaikan di atas riset yang berangkat dari
paradigma positivistik telah diasosiasikan dengan riset kuantitatif dan
paradigma konstruktivis/kritis diasosiasikan dengan riset kualitatif. Riset
kuantitatif adalah riset yang menggambarkan atau menjelaskan suatu masalah yang
hasilnya dapat digeneralisasikan. Periset lebih mementingkan aspek keluasan
data sehingga data atau hasil riset dianggap merupakan representasi dari
seluruh populasi dan cenderung didominasi data kuantitatif, yakni berupa
angka-angka. Meski didominasi data kuantitatif, riset kuantitatif masih
memungkinkan memiliki data kualitatif.
Alat Ukur Terpisah dari Diri Periset
Dalam riset kuantitatif, periset dituntut bersikap objektif
dengan memisahkan diri dari data. Definisi operasional sebagai sarana membuat
alat ukur harus diba- ngun dari teori-teori dan riset-riset terdahulu yang
terkait, bukan dari konstruksi personal periset. Dengan kata lain, periset
berusaha membatasi konsep atau variabel yang diriset dengan cara mengarahkan
riset dalam setting yang terkontrol, lebih sistematik dan terstruktur dalam
sebuah desain riset. Sifat keobjektifan riset, yang mencakup batasan konsep,
instrumen alat ukur termasuk uji validitas dan reliabilitasnya, dan sampel,
harus dijamin sejak awal dalam suatu desain riset.
Proposal riset yang dibuat mahasiswa adalah contoh desain
riset. Desain Riset Ditetapkan di Awal Desain riset ini sudah harus ditentukan
sebelum riset dimulai, yaitu sebelum pengumpulan data dimulai. Desain riset
yang objektif terjadi jika instrumen riset sudah teruji validitas dan
reliabilitasnya dan pemilihan sampel terjamin representasinya. Jika desain
riset sudah objektif maka periset dapat memulai pengumpulan data.
Pengumpulan Data Tidak Harus Periset Sendiri Jika desain
riset termasuk kuesioner sudah fix , maka kuesioner dapat disebarkan.
Terkait dengan paradigma positivistik, maka riset
kuantitatif biasanya menggunakan istilah sampel, responden, dan objek riset
untuk orang orang yang diriset. Istilah «sampel» dikenal dalam riset
kuantitatif sebagai konsekuensi keharusan generalisasi data yang menuntut
keterwakilan dari suatu populasi. Disebut responden dan objek riset, karena
individu dianggap bersifat pasif, objek penderita, dan hanya merespons tanpa
memiliki kemampuan konstruksi, yakni hanya merespons dengan memilih
jawaban-jawaban yang disediakan periset terhadap pertanyaan pertanyaan dalam
kuesioner.
Data Primer dan Sekunder
Dalam riset kuantitatif, dikenal istilah data primer dan
sekunder. Misalnya, riset tentang opini pembaca surat kabar Kompas. Pembagian
ke dalam kedua data ini dimungkinkan karena riset kuantitatif berangkat dari
paradigma positivistik yang menganggap realitas terpisah dari periset dan
responden.
Didominasi Data Kualitatif
Karena berupaya menggali konstruksi sedalam-dalamnya, maka
riset kualitatif sangat didominasi data kualitatif . Meski didominasi data
kualitatif, periset masih dimungkinkan menampilkan data kuantitatif untuk nat
lebih memperjelas temuannya, yakni untuk dapat menonjolkan as- nek magnitude
data . Karena itu, periset kualitatif dibolehkan menyajikan datanya dalam
bentuk tabel atau diagram frekuensi.
Pengumpulan Data Dilakukan Sendiri oleh Periset
Set menjadi instrumen riset itu sendiri yang menentukan dan
memilih data, menggali pertanyaan-pertanyaan, dan melakukan triangulasi data
dengan harus terjun langsung di lapangan . Karena itu riset ini bersifat
subjektif dan hasilnya lebih kasuistik bukan untuk digeneralisasikan. An,
periset adalah instrumen pokok riset.
Berangkat dari paradigma konstruktivis/interpretif, riset
kualitatif mengurai data lebih mendalam berupa konstruksi-konstruksi atau
narasi narasi. Karena itu, orang-orang ini disebut informan , partisipan , dan
subjek riset . Tidak mengherankan, jika secara umum, riset kualitatif
berlangsung lebih lama daripada riset kuantitatif.
Prosedur dan Pola Berpikir
Prosedur riset adalah dengan menjelaskan fenomena dengan
sedalam-dalamnya melalui pengumpulan data sedalam-dalamnya, yang oleh Geertz
disebut «thick description.» Lebih fokus pada kedalaman daripada keluasan .
Karenanya, tidak ada istilah sampel, responden dan objek riset. Karena bersifat
aktif dan berdialog, maka individu yang diriset disebut partisipan, informan
atau subjek riset. Riset kualitatif ini pun tidak mengutamakan besarnya
populasi atau sampel, melainkan disesuaikan dengan ketercukupan data.
Karena itu, jumlah informan riset kualitatif biasanya lebih
terbatas dari riset kuantitatif.
Prinsip saturation, yakni periset dapat memulai dan
mengakhiri riset kapan pun tergantung ketersediaan dan kebaruan data karena
pengumpulan dan analisis data dilakukan bersamaan di lapangan . Berbeda dengan
riset kuantitatif yang harus menunggu semua data masuk agar dapat dianalisis,
riset kualitatif sudah dapat menganalisis saat pertama mengumpulkan data dan
hal ini terus berlangsung hingga periset merasa datanya sudah cukup. Misalnya,
riset mewawancarai informan pertama langsung dianalisis, sampai informan
ketujuh, jawaban masih bervariasi. Dalam situasi ini, periset dapat memutuskan
bahwa telah terjadi data jenuh, yakni tidak ada informasi yang benar-benar baru
dari jawaban informan dan karenanya periset dapat mengakhiri pengumpulan data .
Prinsip saturation banyak diterapkan pada riset kualitatif yang pe riset belum tahu siapa saja informannya, tetapi, juga dapat diterapkan dalam riset yang periset sudah mengetahui siapa saja yang bakal menjadi informannya. Jadi, jumlah informan pun bersifat cair, terkadang tidak dapat ditentukan pada saat memulai riset. Inilah yang disebut prinsip saturation.
Tidak Ada Data Primer dan Sekunder
Tidak ada realitas yang tunggal, setiap periset mengkreasi
realitas sebagai bagian dari proses risetnya. Saat kita ditanya «bagaimana cara
Anda makan?» maka ja jawaban kita sebenarnya bukan sepenuhnya dari kita semua,
tetapi, kita adopsi dari ajaran ibu dan ayah kita, yang telah menjadi satu
kesatuan dengan kita sehingga menjadi konstruksi kita tentang cara makan.
TAHAPAN RISET Riset adalah proses yang memiliki tahapan. Tahap ini merupakan
tahap yang menyertai seluruh proses periset.
« and providing disciplined, systematic answers to them.»
Jadi periset tidak lebih dari proses menanyakan sesuatu yang menarik, sebuah
pertanyaan, dan menyediakan jawaban secara sistematik. Ada yang mencari
informasi dengan menguji dokumen-dokumen , artefak-artefak, observasi
partisipan, kuesioner, eksperimen terkontrol, dan wawancara, yang semuanya bisa
digunakan untuk menjawab pertanyaan. Periset pada tahap ini mencoba
mendefinisikan, menggambarkan, dan menjelaskan serta memberikan penilaian
terhadap data yang diperoleh nya. dan menguji teori juga dapat menghasilkan
pengetahuan atau teori baru Pertanyaan Teori Pengamatan
TAHAPAN RISET Ketiga tahap bukan sebuah proses linear,
melainkan sebuah proses yang memungkinkan setiap tahap saling mempengaruhi 54
Tahap pengamatan sering menstimulasi masing pertanyaan te me salah baru. Teori
sering memunculkan pertanyaan baru dan menentukan metode observasi apa yang
harus dilakukan Pengenalan Tahapan Riset Kuantitatif Dari Gambar 3.1, dapat
dikatakan bahwa tahapan riset dapat dims Tai dari pengujian teori atau dimulai
dari pengkonstruksian teori. Karenanya, tahapan riset kuantitatif ini dimulai
dari desain yang baku dan rigid sehingga terjamin validitas dan reliabilitas
alat ukurnya dan respondennya. Pengenalan Tahapan Riset Kualitatif Yang kedua,
yakni tahapan riset dimulai dari pengamatan di lapangan kemudian ditarik
menjadi simpulan-simpulan teoritis, dikenal dengan paradigma/pendekatan
subjektif atau banyak diasosiasikan dengan riset Kualitatif.
Secara umum tahapan riset Kualitatif dapat dilihat di Gambar
3.3, 55 yang merupakan pengenalan lebih lengkap darí Gambar 3.1 di atas, Riset
kualitatif bersifat iterative/recursive, yakni proses riset bersifat
ulang-ulang dan tidak satu arah . Periset bisa langsung turun lapangan untuk
koleksi data meski belum menyusun desain atau sudah menyusun proposal, tetapi,
proposal tersebut bersifat cair, bisa berubah sesuai dengan data yang
ditemukan, Desain pun bisa dibuat saat berada di lapangan. Namun demikian,
dosen biasanya meminta mahasiswa untuk membuat proposal agar dosen bisa
memahami pola berpikir dan apa yang dimaksud mahasiswa, sebagai sarana diskusi.
Meskipun dimungkinkan periset belum memiiki konsep pasti se di lapangan,
seperti ditemui pada riset eksploratif , secara umum periset kualitatif meg
sudah memiliki dan memahami konsep terkait realitas yang ingin diketahuinya.
LEVEL EMPIRIS Observasi koleksi data di lapangan Literatur review MEnghasilkan arms & perumusan masalah Analisis data & pengklasifikasian data Membangun Proposisi model/pola Interpretasi dan afirmasi teori atas data
Strategi Eksploratif
Strategi/jenis analisis eksploratif bertujuan menggali data,
tanpa meng operasionalisasi konsep atau menguji konsep pada realitas yang di.
Jenis riset eksplorasi yang dikenal adalah riset grounded. Pada saat observasi,
dimungkinkan periset belum paham fenomena atau belum mempunyai konsep dari
fenomena yang ditemuinya. Terkadang periset benar-benar mendapatkan fenomena
yang baru, yang belum pernah diperolehnya dari teori-teori.
Periset ptun dimungkinkan memperoleh data yang beragam dan
luas . Tetapi, dari semua fenomena yang diobservasinya, sedikit demi sedikit,
periset dapat fokus pada tema-tema yang spesifik yang menarik perhatiannya.
Kemudian dia menganalisis dan mengklasifikasikan berbagai data yang terkait
dengan tema-tema yang menjadi fokus tersebut dan mengaitkan satu demi satu dan
terus mengeksplorasinya sehingga berkembang . Pada akhirnya, periset
menginterpretasi pola-pola hubungan antar data dengan melakukan ko kegiatan
barter yang dapat membangun proposisi, model, teori baru atau simpulan
risetnya.
Set- cine dan hal-hal yang belum diketahui oleh masyarakat
dan berupaya mempresentasikan gambaran mental umum terkait fakta, setting, dan
hal-hal tersebut.
Strategi Deskriptif Kuantitatif
Strategi riset deskriptif kuantitatif bertujuan menganalisis
data dengan cara mendeskripsikan secara sistematis, faktual, dan akurat tentang
fakta-fakta dan sifat-sifat dari populasi atau objek tertentu. Deskripsi ini
tidak terlalu mengutamakan makna-makna, lebih banyak menganalisis permukaan
data karena fokus mendeskripsikan proses-proses terjadinya realitas yang
diriset dan hasilnya, tanpa mengurai secara detail main makna yang terjadi
disekitar atau di balik fenomena itu Tidaklah heran hasil analisisnya lebih
banyak berupa persentase proses dan hasil dari suatu fenomena. Melalui kerangka
konseptual , periset melakukan operasionalisasi konsep yang akan Menghasilkan
variabel beserta indikatornya sebagai dasar membuat amen pertanyaan/kuesioner .
Kuesioner ini adalah instrumen mengumpulkan data .
Riset ini untuk menggambarkan realitas sedang terjadi tanpa
menjelaskan hubungan antar variabel. Data yang diperoleh dari penyebaran
instrumen dianalisis dengan mengaplikasikan teori-teori yang sudah dirumuskan
di bab tinjauan pustaka tersebut . Periset akan menghubung-hubungkan atau
mempertemukan berbagai aspek data yang diperoleh, seperti opini tentang
kualitas berita, opini tentang kebahasaan, opini tentang variasi rubrik, dan
data karakteristik sosio demografis. Misalnya, Pada responden yang berjenis
kelamin laki-laki, berapa persen yang beropini positif tentang kualitas berita
dan berapa persen yang menganggap isi rubrik telah bervariasi.
Strategi Deskriptif Kualitatif Deskriptif kualitatif adalah
strategi mendeskripsikan data secara sistematis, faktual, dan akurat dengan
berupaya menggali kedalaman atau makna data lebih mendalam, seperti mengapa
realitas itu terjadi, motif-motif pelaku sosial, latar belakang yang
mempengaruhi motif, serta pengaruh konteks-konteks lain . Strategi ini juga
dapat digunakan untuk mengevaluasi keberhasilan suatu program atau kebijakan
Sama seperti riset grounded, strategi deskriptif kualitatif bersifat induktif
sehingga peran data lebih penting daripada teori. Teori digunakan periset
sebagai asumsi-asumsi awal tentang masalah yang diriset. Berbeda dengan
deskriptif kuantitatif, asumsi-asumsi teoritis dalam riset kualitatif ini tidak
digunakan sebagai landasan atau pedoman, tetapi, hanya agar periset tidak buta
sama sekali tentang realitas yang diriset.
Sebagai asumsi awal riset, uraian teoretis ini dapat berubah
kembali untuk menyesuaikan data yang diperoleh di lapangan. Teori-teori yang
digunakan sebagai asumsi awal ini dimungkinkan tetap dapat dipakai jika dirasa
sesuai untuk menganalisis data yang diperoleh, dan periset juga dapat mencari
teori-teori lain yang dianggap sesuai dengan data dan dengan membuang atau
tetap memakai teori-teori yang awal tersebut. Karena itu, deskriptif kualitatif
memiliki fleksibilitas desain riset, yaitu, desain dapat dibuat sebelum, pada
saat atau setelah pengumpulan data dilakukan. Pada kotak yang bergaris putus
putus, teori bersifat sebagai asumsi-asumsi awal periset.
Pada kotak yang bergaris penuh, teori bersifat sebagai alat
menginterpretasi/membahas data dan mengafirmasi data sehingga muncul teori,
dalil, model, proposisi atau simpulan umum yang baru. Karena itu, jika periset
membuat proposal maka Bab Tinjauan Pustaka pada saat proposal mesti nya berbeda
dengan Bab Tinjauan Pustaka yang ada di laporan riset . Di dalam proposal,
teori-teori masih sebagai asumsi asumsi riset, sedangkan saat tahap laporan,
teori-teori sebagai afirmasi data Strategi Eksplanatif Kuantitatif Strategi
eksplanatif ini sering disebut pula sebagai strategi riset korelasional dan
komparatif . Variabel adalah konsep yang bisa diukur.
Mengelaborasi teori yang satu dengan yang lain sehingga
dapat mem. Riset hasil riset eksploratif atau deskriptif, dengan fokus menjawab
pertanyaan «mengapa». Melalui riset eksplanatif, periset bertujuan menanyakan
sejauh mana signifikansi perbedaan itu, mengapa perbedaan itu signifikan?.
Strategi Evaluatif
Karena riset ini ingin menjelaskan hubungan dan juga
efektivitas, dibutuhkan suatu tujuan program yang diriset dan apa yang ingin di
reset dan dianalisis.
Fenomena Kuasi-Kualitatif
Dalam praktik riset, saya menemukan masih banyak periset
yang belum sepenuhnya memahami perbedaan deskriptif kuantitatif dan kualitatif.
Ini yang disebut kuasi-kualitatif atau kualitatif semu. Saya menemukan
mahasiswa mempunyai kecenderungan yang tinggi untuk melakukan riset kualitatif.
Di satu sisi bermakna positif, yaitu beragamnya pendekatan, yang tidak
didominasi oleh positivistik.
Perbedaan riset kualitatif dan kuantitatif bukan karena yang
satu simple atau tidak, dan apakah menggunakan statistik atau tidak. Yang benar
adalah keduanya berbeda karena berbeda paradigma, keduanya memiliki
karakteristik masing-masing. Riset kualitatif yang berangkat dari paradigma
subjektif interpretif memiliki kekuatan pada kemampuan menggali dan memaknai
data. Kehidupan sosial dimaknai sebagai hasil konstruksi dan pemahaman yang
bervariasi dari individu dan jarang mengubahnya ke dalam bentuk bilangan
bilangan.
Riset kuantitatif, karena sifatnya yang
objektif/positivistik, lebih menekankan menjaga keobjektifan riset . Penulis
lain yang membahas ini adalah Bungin . Yang terakhir ini saya sebut kuasi
kualitatif instrumen riset, mulai dari tahap konseptualisasi, konstruksi
variabel be. Akibatnya deskriptif kualitatif tidak ditempatkan pada posisi atau
rel yang benar.
Dari analisis data, periset dapat menentukan data yang
dikumpulkan 'dirasa' cukup atau data sudah jenuh, sehingga dapat menyudahi
proses risetnya kapanpun . Analisis data yang bersifat iterative/recursive ini
merupakan konsekuensi logis dan paradigma konstruktivis/interpretif dari aspek
ontologi, yaitu konstruksi realitas dipengaruhi oleh pengalaman, konteks dan
waktu. Orang yang sama dianggap berbeda karena beda waktu, beda konteks, dan
beda pengalaman. Ini yang menyebabkan riset kualitatif lebih sulit melakukan
replicate data , yaitu pengulangan hasil riset untuk konteks-konteks yang lain.
« Analisis berangkat dari teori-teori atau dalil-dalil atau hukum-hukum yang
sudah dipersiapkan sehingga menjadi pedoman baku dalam mencari data untuk
mengimbangi cara berpikir deduktif» . Periset mendialogkan data yang sudah
diklasifikasikan ke dalam kategori-kategori tertentu untuk mencari pola-pola
hubungan antar data. Yang bebas mengkonstruksi hanya informan, sedangkan
periset masih dibatasi oleh teori-teori dalam bertanya , padahal semestinya,
periset dan informan adalah dua kesatuan partisipan yang sama-sama
mengkonstruksi realitas.
Kemudian, periset cenderung memilih data-data yang dianggap
sesuai dengan teori-teori yang digunakan untuk menganalisis data . hukum-hukum,
konsep- konsep, model, ciri-ciri atau kategori-kategori umum, simpulan umum
Deduktif Merumuskan pertanyaan wawancara Induktif
Riset Kuantitatif
Apakah alat ukur sudah sesuai dengan apa yang diukurnya
tidak sesuai dengan apa yang akan diukur. Riset Kualitatif Autentisitas , yaitu
memperluas konstruksi personal yang dia ungkapkan. Periset memberi kesempatan
dan memfasilitasi pengungkapan konstruksi personal yang lebih detail sehingga
mempengaruhi mudahnya pemahaman yang lebih mendalam. Misalnya, periset memberi
peluang informan untuk bercerita panjang lebar tentang apa yang dialaminya
dalam konteks wawancara yang informal dan santai.
Untuk bisa mengetahui otentisitas jawaban, salah satunya
dengan memberikan waktu yang lebih panjang bagi informan untuk bicara. Selain
bisa mendapat jawaban yang detail, makin banyak informan berbicara, semakin
besar peluang periset mengecek kebenaran perkataan informan. Ini yang disebut
fairness, yakni berkaitan dengan kejujuran. Triangulasi teori, yaitu
memanfaatkan dua atau lebih teori untuk diadu atau dipadu.
Untuk itu diperlukan rancangan riset, pengumpulan data, dan
analisis data yang lengkap supaya hasilnya komprehensif. Triangulasi periset,
yaitu menggunakan lebih dari satu periset dalam mengadakan observasi atau
wawancara. Karena masing masing periset mempunyai gaya, sikap, dan persepsi
yang berbeda dalam mengamati fenomena maka hasil pengamatannya bisa berbeda
meski fenomenanya sama. Sebelumnya, tim perlu mengadakan kesepakatan dalam
menentukan kriteria atau acuan pengamatan dan wawancara.
Triangulasi metode, yaitu usaha mengecek keabsahan data atau
mengecek keabsahan temuan riset. Triangulasi metode dapat dilakukan dengan menggunakan
lebih dari satu teknik pengumpulan data untuk mendapatkan yang sama.
Intersubjectivity Agreement Semua pandangan, pendapat atau data dari suatu
subjek didialogkan dengan pendapat, pandangan atau data dari subjek lainnya.
Tidak ada data yang dibuang alias kondensasi sehingga menghasilkan simpulan
tertentu.
Kemungkinan hasil riset dapat diterapkan dalam konteks lain
meski riset kualitatif tidak bermaksud menggeneralisasi data.
E Conscientization
Conscientization ini jika dilakukan membuat periset dapat
melakukan blocking interpretation, karena mempunyai basis teoritis yang
mendalam dan kritik harus tajam. Hal ini merupakan karakter riset-riset
kualitatif, baik yang berparadigma konstruktivistik maupun kritis.
Referensi :
Kriyantono, R.
(2006). Teknik praktis riset komunikasi kuantitatif dan kualitatif (2th
ed.). Jakarta: PRENADAMEDIA GROUP.
Komentar
Posting Komentar